MImpi dan ISTIQARAH


30-7-2014 ; 21:56

Malam sunyi tak bertepi
Angin malam nakal mengoda
Termenung disudut ruang

Rupanya terlintas sejenak
Tentang siapa dia bertanya
Tapi bukan aku

Ini aku pertama menyapa
Lewat jari waktu berlalu
Aku tetap disini
Akan tetap disini

Apa sebab mereka tertawa?
Apa tentang kepengecutanku?
Bahkan setanpun tertawa karenanya

Sujud bertumpu tanah
Tuhan jadi sandaran
Pasrahku atas MU

Kutemu kau damai di mimpi
Dan kenyakinan istiqarah
Jiwaku bertanya
Apa kau belah jiwaku?

Gadis Lugu


27-01-2014

Dulu semilir angin mampu membekukan tubuh.
Derap derap sunyi membisikan jiwa.
Raut sang malam mematahkan riang.
Seribu ribu hari tak berarti.

Hingga seorang gadis lugu sanggup balikan tawa.
Gurat gurat wajah itu pernah ditemui disela sela waktu yang berbeda.
Matahari pagi menyapa dengan senyuman hangat.
Sederhana tapi sangat bermakna.

Temani aku hingga kelopak mata tertutup selamanya.

Mawar busuk dan rumah tua


27-12-2013     17:09

Setapak melangkah.
Setapak terengah.
Ruang ruang jingga yg berwarna warni.
Hening sekali.

Terciup aroma mawar busuk.
Lantunan musik nan sendu.
Bersama burung hantu.
Melamun disebuah rumah tua.

Ironi… ironi… ironi
Ada cerita dibalik kisah.
Senang dan sedih bersautan.
Sukar untuk dibahasakan.

Kucium aroma surga atas namamu.
Kuharap waktu berhenti berdetak.
Aku sedang bersamanya.
Rayuku pada sang waktu.

Tapi tapi tapi.
Sang waktu bergegas pulang.
Kucium lagi mawar busuk.
Dan kerumah tua aku harus kembali.

Setia pada Iblis


23:28  8/12/2013

Iblis mengodamu.
Ketika malam disertai hujan.
Air mata dan butiran air hujan menyatu.
Tentang cerita yang mengoyak hati.

Berteriak tapi tak berbunyi.
Pita suara itu telah pecah sudah.
Sunyi sunyi sunyi.
Tak sepasang mata yg melihat.

Kau coba usir iblis itu.
Sialan.
Pelan pelan makin mendekat.
Matanya menyala nyala.

Kau sembunyi dibalik sudut ruang gelap dan pengap.

Ketika sang mentari menyapa pagi.
Setia kau menemaninya kembali.